JAKARTA, SobatPangan.id– Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang. Tiga agenda yang menjadi perhatian pemerintah yakni pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), Danantara Development Management Fund (DDMF), serta pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa.
Ketiga agenda tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, di kutip dari Setneg.go.id,Jumat (14/8/2026).
Presiden Prabowo mengatakan pemerintah telah menentukan lokasi sementara PFII di Jakarta. Pemerintah juga membuka kemungkinan pengembangan pusat finansial tersebut di Bali dan sejumlah kawasan lain yang dinilai memiliki potensi untuk menarik dana besar dari luar negeri.
“PFII ini akan menjadi wajah baru pusat-pusat keuangan kita. Jakarta dan mungkin Bali sebagai pusat keuangan, investasi, teknologi finansial, arbitrase, dan penyelesaian sengketa komersial berstandar dunia,” ujar Presiden Prabowo.
Menurut Presiden Prabowo, PFII akan memiliki sejumlah kelembagaan, di antaranya Dewan Pertimbangan, Dewan PFII, Lembaga Pengelola PFII, Lembaga Pengawas Jasa Keuangan PFII, Pengadilan PFII di bawah Mahkamah Agung, serta Lembaga Arbitrase PFII.
PFII juga akan menawarkan kepastian transfer dan repatriasi modal serta laba, fasilitas perpajakan bagi kegiatan yang memenuhi persyaratan, golden visa, dan pelayanan perizinan yang kompetitif.
Namun, kemudahan tersebut tetap akan disertai dengan penerapan tata kelola dan kepatuhan. Pemerintah tetap memberlakukan aturan antipencucian uang, transparansi pemilik manfaat, kewajiban perpajakan, serta pertukaran informasi internasional.
“Kita membangun PFII agar modal dunia menemukan kepastian di Indonesia, talenta terbaik bekerja di Indonesia, dan transaksi atas kekayaan Indonesia diselesaikan di Indonesia,” tegasnya.
Danantara dan Pembiayaan Proyek Jangka Panjang
Selain membangun pusat finansial internasional, pemerintah menyiapkan Danantara Development Management Fund (DDMF) sebagai instrumen pembiayaan proyek strategis jangka panjang.
Presiden Prabowo menjelaskan, Danantara merupakan dana kedaulatan Indonesia yang diarahkan menjadi instrumen pembangunan kapasitas nasional untuk puluhan tahun mendatang. Adapun DDMF akan berperan menyiapkan, mengembangkan, dan membiayai proyek strategis yang penting bagi Indonesia, tetapi belum dapat dibiayai melalui investasi komersial jangka pendek.
“DDMF adalah instrumen yang menyiapkan, mengembangkan, dan membiayai proyek strategis jangka panjang yang penting bagi Indonesia, tapi belum dapat kita biayai dengan investasi komersial jangka pendek dan juga kita hindari harus dibiayai oleh APBN,” kata Presiden Prabowo.
Salah satu proyek yang disiapkan melalui skema tersebut adalah mobil nasional. Pemerintah menargetkan produksi mobil nasional secara massal dapat dimulai pada akhir 2028.
“Melalui DDMF, dana kedaulatan Indonesia akan ditanamkan secara disiplin dan profesional sebagai contoh pada proyek mobil nasional. Kita rencanakan mobil nasional kita, kita produksi secara massal di akhir tahun 2028,” ujar Presiden.
Giant Sea Wall Lindungi Pantura
Agenda strategis lainnya adalah pembangunan Giant Sea Wall di sepanjang Pantai Utara Jawa. Proyek tersebut dinilai penting untuk melindungi jutaan warga dan kawasan industri dari ancaman kenaikan muka air laut.
Presiden Prabowo mengatakan Giant Sea Wall tidak hanya berfungsi sebagai tanggul pelindung, tetapi juga diarahkan menjadi bagian dari infrastruktur air bersih, jalur pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus proyek pengembangan kemampuan rekayasa nasional.
“Giant Sea Wall kita di pantai utara Jawa harus dibangun segera dan menjadi sabuk perlindungan bagi jutaan warga Pantura Jawa untuk menyelamatkan puluhan ribu hektare yang mulai tenggelam oleh naiknya laut,” kata Presiden Prabowo.
Ia mengatakan pembangunan Giant Sea Wall juga harus menjadi proyek yang mampu meningkatkan kemampuan teknologi dan rekayasa anak bangsa.
“Selain itu, Giant Sea Wall kita di pantai utara Jawa harus menjadi infrastruktur air bersih, harus menjadi jalur pertumbuhan baru, dan proyek rekayasa yang membangun kemampuan anak bangsa,” imbuhnya.
Presiden Prabowo menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menghasilkan berbagai terobosan teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembangunan proyek tersebut.
Pemerintah memperkirakan pembangunan Giant Sea Wall membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun. Proyek itu direncanakan dibagi menjadi 15 segmen yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur, termasuk wilayah Gresik.
“Apapun kita harus berani mulai. Ini menyangkut hajat hidup puluhan juta rakyat kita yang hidup di Pantura,” tegas Presiden Prabowo.
Menurutnya, pembangunan Giant Sea Wall juga berkaitan dengan masa depan industri nasional karena banyak kawasan industri berada di sepanjang Pantai Utara Jawa.
“Jadi masa depan industri kita juga dipertaruhkan,” ujar Presiden Prabowo.
Ketiga agenda tersebut, kata Presiden Prabowo, menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih kuat sekaligus mempersiapkan transformasi nasional dalam jangka panjang. (Mad)


















