JAKARTA ,SobatPangan.id — Ketahanan pangan Indonesia kembali menghadapi tantangan di tengah musim kemarau yang panjang. Minimnya curah hujan dan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk pertanian, menekan produktivitas tanaman, serta meningkatkan risiko kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Juli–September. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dari normal.
Kondisi tersebut semakin perlu diwaspadai karena fenomena El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027. BMKG juga menyebut potensi kekeringan dapat diperkuat oleh kondisi iklim lainnya, termasuk peluang IOD positif pada September–Desember 2026.
Air Menjadi Titik Kritis
Persoalan pangan pada musim kemarau bukan semata-mata mengenai berkurangnya produksi. Ketersediaan air menjadi persoalan utama karena sebagian kegiatan pertanian masih sangat bergantung pada kondisi hujan dan jaringan irigasi.
BMKG mencatat pada Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Pada periode tersebut, ribuan titik pengamatan juga mengalami hari tanpa hujan dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang.
Jika kondisi berlangsung lama, petani menghadapi risiko gagal tanam, penurunan produktivitas, hingga meningkatnya biaya produksi karena kebutuhan pompa dan penyediaan air.
Dampaknya tidak berhenti di tingkat petani. Apabila produksi komoditas tertentu menurun secara bersamaan, pasokan di pasar dapat ikut tertekan. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas hortikultura yang sensitif terhadap ketersediaan air.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti Indonesia berada dalam krisis pangan nasional. Pemerintah menyatakan cadangan beras pemerintah berada pada posisi yang lebih kuat dibandingkan saat menghadapi El Niño sebelumnya.
Solusi Tidak Cukup dengan Mengandalkan Hujan
Menghadapi kondisi iklim yang semakin tidak menentu, strategi ketahanan pangan perlu bergeser dari sekadar meningkatkan produksi menjadi mengelola risiko iklim.
Pertama, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur penyimpanan dan distribusi air, mulai dari waduk, embung, jaringan irigasi, hingga sumur dan sumber air alternatif yang dikelola secara berkelanjutan.
Kedua, kalender tanam harus semakin berbasis data iklim. Petani perlu mendapatkan informasi mengenai awal musim hujan, potensi kekeringan, serta ketersediaan air sehingga keputusan menanam tidak hanya berdasarkan kebiasaan, tetapi juga berdasarkan kondisi cuaca dan iklim.
Ketiga, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan perlu diperluas. Pengembangan benih yang memiliki umur panen lebih pendek dan membutuhkan lebih sedikit air dapat menjadi salah satu strategi penting menghadapi perubahan pola musim.
Keempat, diversifikasi pangan juga harus diperkuat. Ketahanan pangan tidak seharusnya hanya bergantung pada beras. Komoditas seperti jagung, singkong, sorgum, sagu, dan pangan lokal lainnya dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah.
Dari Respons Darurat ke Ketahanan Jangka Panjang
Kemarau panjang seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pangan Indonesia secara lebih mendasar.
Pemerintah perlu membangun sistem peringatan dini yang langsung terhubung dengan petani, memperkuat asuransi pertanian, memastikan akses pembiayaan bagi petani terdampak kekeringan, serta menjaga distribusi pangan agar daerah yang mengalami penurunan produksi tetap mendapatkan pasokan.
Di sisi lain, cadangan pangan pemerintah tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga ketika produksi terganggu.
Dengan demikian, persoalan pangan di tengah kemarau tidak cukup diselesaikan dengan operasi pasar setelah harga naik. Mitigasi harus dilakukan sebelum kekeringan menyebabkan produksi turun.
Pada akhirnya, tantangan pangan Indonesia di era perubahan iklim bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi bagaimana memastikan pangan tetap tersedia ketika air semakin terbatas dan musim semakin sulit diprediksi.
Strateginya harus bergerak dari pendekatan reaktif menuju sistem pangan yang lebih adaptif, air dikelola, produksi disesuaikan dengan iklim, pangan didiversifikasi, dan petani diperkuat. Dengan cara itu, kemarau panjang tidak berubah menjadi krisis pangan.(Mad)


















