Jakarta, SobatPangan.id — Kemandirian pangan dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kedaulatan bangsa sekaligus melindungi masyarakat dari tekanan dan gejolak global. Pemerintah pun terus mendorong swasembada pangan berkelanjutan dengan menempatkan petani dan masyarakat kecil sebagai bagian penting dalam pembangunan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, ketahanan pangan tidak semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi. Lebih jauh, swasembada pangan merupakan bentuk keberpihakan negara kepada rakyat, khususnya petani dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap tekanan ekonomi.
“Karena itu, pemerintah terus memperkuat swasembada pangan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan bangsa,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 10/09/2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Amran ketika menjadi pembicara dalam Simposium Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bertajuk “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa, Menuju Indonesia Emas 2045” di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta,Kamis 10/09/2026,di kutip dari Antara News.com Jumat 11/09/2026.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran menekankan bahwa pembangunan sektor pangan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Negara, menurut dia, memiliki tanggung jawab untuk memastikan petani tetap memiliki ruang untuk tumbuh sekaligus menjaga masyarakat berpenghasilan rendah dari dampak gejolak pangan.
“Kita harus lindungi rakyat Indonesia. Kita harus lindungi petani. Kita lindungi orang miskin. Jangan kita pesta pora di atas penderitaan orang miskin,” ujar Amran.
Swasembada Bukan Sekadar Produksi
Mentan Amran mengatakan, semangat membangun kemandirian pangan sejalan dengan arah pembangunan yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kemandirian pangan ditempatkan sebagai bagian dari strategi memperkuat Indonesia agar tidak mudah bergantung pada negara lain.
Indonesia, kata Amran, sebenarnya memiliki pengalaman mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan strategis. Namun, berbagai perubahan kebijakan dan kondisi produksi dalam negeri membuat sebagian kebutuhan pangan kembali bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Karena itu, pemerintah kini berupaya membangun kembali kekuatan produksi nasional. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga pada penguatan perlindungan dan kesejahteraan petani.
“Perjuangan swasembada pangan bukan hanya tentang produksi. Ini juga tentang bagaimana negara hadir dan berpihak kepada rakyat,” ujar Mentan Amran.
Pernyataan Mentan Amran tersebut menggambarkan bahwa agenda pangan pemerintah tidak ditempatkan semata sebagai kebijakan sektoral Kementerian Pertanian. Kemandirian pangan dipandang sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperkuat ketahanan nasional.
Pengalaman Hidup Jadi Pengingat
Dalam forum tersebut, Amran juga mengungkapkan pengalaman hidupnya ketika masih muda dan berada dalam keterbatasan ekonomi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan bagi dirinya untuk mendorong kebijakan yang menurutnya harus memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat yang berada di lapisan bawah.
“Saya tahu rasanya hidup dalam kesulitan. Karena itu saya ingin memastikan kebijakan yang kita jalankan berpihak kepada rakyat, terutama petani dan masyarakat kecil,” ungkapnya.
Bagi Amran, keberhasilan pembangunan pangan tidak hanya dapat diukur dari besarnya produksi nasional. Keberhasilan juga harus terlihat dari kemampuan petani meningkatkan kesejahteraan dan masyarakat memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.
Mimpi Pangan Mandiri di Setiap Pulau
Pemerintah saat ini terus mendorong Indonesia menuju swasembada pangan yang lebih kokoh, termasuk pada komoditas-komoditas strategis.
Targetnya tidak berhenti pada kemampuan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah juga ingin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mampu meningkatkan produksi hingga memiliki kapasitas untuk melakukan ekspor.
Mentan Amran menjelaskan, Presiden Prabowo memiliki visi agar setiap wilayah di Indonesia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
“Mimpi Bapak Presiden pangan kita mandiri setiap pulau,” tutur Mentan Amran.
Konsep tersebut diharapkan dapat membuat distribusi pangan menjadi lebih efisien. Dengan produksi yang semakin dekat dengan pusat konsumsi, pemerintah juga berharap tekanan terhadap harga pangan dan inflasi dapat ditekan.
Dari Pangan ke Kemandirian Energi
Agenda kemandirian pemerintah tidak hanya menyentuh sektor pangan. Pemerintah juga mendorong kemandirian energi melalui pengembangan biodiesel, termasuk program B50 yang memanfaatkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel.
“B50 apa itu? CPO dijadikan solar. Itu 5 juta ton. Sejak merdeka kita impor solar. Bulan Juli kemarin kita stop impor,” kata Amran.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi dari luar negeri sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.
Dengan demikian, kemandirian pangan dan energi ditempatkan dalam satu kerangka besar pembangunan nasional: memperkuat kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri.
Buka Kritik, Tolak Korupsi
Di sisi lain, Amran juga menyampaikan komitmennya untuk menjaga integritas selama menjalankan amanah sebagai Menteri Pertanian.
Ia mengaku terbuka terhadap kritik dan evaluasi terhadap kinerjanya. Namun, ia menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap praktik korupsi.
“Cari kelemahan saya, cari kekurangan saya karena saya orang tidak sempurna. Tapi kalau ada korupsi saya lakukan hari ini juga saya mundur dan proses saya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pembangunan sektor pangan, menurut Amran, tidak hanya membutuhkan kebijakan yang tepat, tetapi juga tata kelola pemerintahan yang bersih.
Pada akhirnya, kemandirian pangan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memiliki tanggung jawab membangun kebijakan dan infrastruktur pendukung, sementara petani menjadi aktor utama dalam menjaga produksi pangan nasional.
Mentan Amran berharap seluruh elemen bangsa, termasuk keluarga besar KAHMI, dapat ikut memperkuat agenda strategis nasional tersebut.
Kemandirian pangan, energi, dan ekonomi, menurut dia, merupakan fondasi penting untuk membawa Indonesia menuju negara yang semakin kuat, mandiri, dan berdaulat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.(Mad)

















