Jakarta, SobatPangan.id– Suhu udara yang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya memengaruhi kenyamanan beraktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau menjaga keseimbangan gizi, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengatur aktivitas harian agar tubuh tetap prima.
Kementerian Kesehatan menilai dehidrasi menjadi salah satu dampak paling umum saat cuaca panas. Kondisi ini dapat menurunkan konsentrasi, memicu kelelahan, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila tidak segera ditangani.
Melalui edukasi kesehatan mengenai antisipasi cuaca panas, Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar membiasakan minum air putih secara rutin, bukan hanya ketika merasa haus. Selain itu, konsumsi buah dan sayuran yang mengandung banyak air juga dianjurkan untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Di sisi lain, pemenuhan gizi seimbang dinilai tidak kalah penting. Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Lovely Daisy mengatakan kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh, terutama saat menghadapi perubahan cuaca.
“Penuhi gizi seimbang dari pangan lokal sebagai strategi utama untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat serta mencegah berbagai masalah gizi,” ujar Lovely Daisy di kutip dalam Webinar Nasional Hari Gizi Nasional secara daring Kamis (5/2/2026).
Ahli gizi menyebut makanan kaya vitamin C, vitamin A, vitamin E, serta mineral seperti kalium dan magnesium berperan menjaga fungsi metabolisme tubuh. Sumber nutrisi tersebut dapat diperoleh dari jeruk, pepaya, pisang, bayam, tomat, ikan, telur, dan kacang-kacangan. Pola makan yang beragam dinilai lebih efektif dibandingkan mengandalkan suplemen semata.
Tak hanya memperhatikan asupan makanan, masyarakat juga disarankan mengurangi konsumsi minuman tinggi gula dan berkafein secara berlebihan. Jenis minuman tersebut dapat mempercepat kehilangan cairan apabila tidak diimbangi dengan konsumsi air putih yang cukup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa paparan suhu panas berlebih dapat memperburuk kondisi kesehatan kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
“Heat stress is a leading cause of weather-related deaths and can exacerbate underlying illnesses including cardiovascular disease, diabetes, asthma and kidney disease,” demikian keterangan WHO dalam di kutip dari laporan Heat and Health yang diperbarui pada Juli 2026.
WHO juga menyarankan masyarakat membatasi aktivitas fisik berat pada siang hari, menggunakan pakaian yang ringan dan mudah menyerap keringat, serta memanfaatkan tempat yang teduh atau berpendingin apabila suhu udara meningkat tajam.
Dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang, menjaga hidrasi, serta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca, risiko gangguan kesehatan akibat suhu panas dapat ditekan. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin sering terjadi. (Mad)












